Sejak kecil, laki-laki sering diajarkan untuk terlihat kuat.
Tangis harus ditahan, lelah disembunyikan, dan masalah diselesaikan seorang diri.
Seolah menjadi laki-laki berarti tidak boleh memiliki ruang untuk rapuh.
Namun, ketika semua perasaan terus dipendam, diam perlahan menjadi satu-satunya tempat untuk bertahan.
Buku Laki-Laki dan Isi Kepalanya karya Muhammad Sahal Al-Bakasy bukanlah kumpulan instruksi tentang bagaimana menjadi laki-laki yang lebih kuat.
Buku ini hadir sebagai kawan bagi siapa pun yang sedang lelah, tetapi tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Melalui catatan-catatan sederhana yang dekat dengan kehidupan, Sahal merangkai berbagai perasaan yang sering luput didengar.
Tentang tanggung jawab yang dipikul tanpa suara, pikiran yang mendadak bising saat malam, tumbuh tanpa ruang untuk jatuh, hingga cinta seorang ayah yang lebih sering ditunjukkan lewat tindakan daripada kata-kata.
Buku ini dapat menjadi teman bagi laki-laki yang ingin memahami isi kepalanya sendiri.
Juga bagi pasangan, istri, keluarga, atau siapa pun yang ingin mengenal sisi terdalam seorang laki-laki di balik sikap diamnya.
Karena merasa lelah bukanlah sebuah dosa. Mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja juga bukan tanda kelemahan.
Terkadang, keberanian terbesar justru dimulai ketika seseorang bersedia jujur terhadap perasaannya sendiri.
Mungkin tidak semua laki-laki pandai bercerita. Namun, buku ini dapat membantu menyuarakan hal-hal yang selama ini sulit mereka ungkapkan.