Sepiring nasi, sate, kari, atau tempe bukan hanya makanan.
Bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah kelahiran, rasa yang familiar dapat menghadirkan kembali kenangan tentang rumah, keluarga, dan identitas yang tak pernah benar-benar ditinggalkan.
Namun, bagaimana awalnya makanan Indonesia dikenal oleh masyarakat dunia?
Buku Rasa Tanah Air karya Fadly Rahman mengajak pembaca menelusuri perjalanan kuliner Indonesia di Prancis, Suriname, dan Belanda sejak akhir abad ke-19 hingga dekade 1940-an.
Di dalamnya tersimpan berbagai kisah menarik. Kuliner Jawa pernah disajikan dalam Exposition Universelle Paris 1889 dengan bantuan juru masak kenamaan Prancis.
Teknik membuat tempe dipelajari seorang peneliti pangan Amerika Serikat dari Sinem, perempuan Jawa di Suriname.
Ada pula kisah Oesin dan Saiman, diaspora Hindia yang merintis bisnis Indische restaurant di Belanda.
Melalui stan kuliner Jawa di Paris, warung para buruh migran di Suriname, dan perkembangan restoran Hindia di Belanda, buku ini memperlihatkan bahwa makanan tidak hanya berpindah dari satu negara ke negara lain.
Di tangan para diaspora, makanan menjadi pengikat kenangan, penjaga kedekatan emosional dengan tanah air, sekaligus benih tumbuhnya identitas kebangsaan.
Ditulis berdasarkan penelusuran sejarah, Rasa Tanah Air cocok bagi pencinta kuliner, pemerhati sejarah, akademisi, serta siapa saja yang ingin memahami perjalanan makanan Indonesia di panggung dunia.
Temukan cerita tentang rasa, perjuangan, dan kerinduan yang tersimpan di balik kuliner Nusantara.
Sebab sejauh apa pun seseorang pergi, tanah air selalu dapat terasa di lidah.