Kehilangan bisa datang tanpa peringatan. Ia merobek rutinitas, mengubah tawa menjadi sunyi, dan membuat hari terasa lebih berat dari biasanya.
Namun bagaimana jika duka bukanlah tanda bahwa hidup berhenti, melainkan undangan untuk menemukan kekuatan terdalam dalam diri?
Dalam Resilient Grieving, Lucy Hone menuliskan refleksi yang lahir dari pengalaman pribadi dan penelitian mendalam tentang resiliensi.
Ia tidak menawarkan janji kosong, tidak memaksa Anda untuk “cepat kuat”.
Ia justru mengajak Anda memahami bahwa setiap orang berduka dengan caranya sendiri—dan itu tidak apa-apa.
Melalui pendekatan yang hangat dan praktis, buku ini membantu Anda mengelola emosi tanpa menekannya, memperkuat hubungan dengan orang-orang terkasih, serta menemukan makna di tengah rasa kehilangan.
Anda akan belajar bahwa rasa syukur dan harapan tetap mungkin hadir, bahkan ketika rindu masih terasa begitu dalam.
Bayangkan mampu menghadapi hari-hari berat dengan lebih tenang.
Mampu mengenang tanpa hancur.
Mampu mencintai kembali tanpa merasa bersalah.
Buku ini menunjukkan bahwa resiliensi bukan tentang melupakan, tetapi tentang bertumbuh bersama kenangan.
Setiap halaman menjadi pengingat bahwa apa yang kita alami tidak pernah lebih besar daripada kekuatan yang kita miliki.
Duka memang mengubah kita, tetapi ia juga dapat membentuk kita menjadi lebih bijak, lebih peka, dan lebih berani.
Jika Anda atau orang terdekat sedang berjalan dalam lorong kehilangan, izinkan buku ini menjadi teman yang lembut namun menguatkan.
Saatnya menemukan cara untuk hidup kembali dengan hati yang tetap setia mencinta.